Selasa, 24 September 2013

Hujan Meteor Leonid

Sebuah hujan meteor kembali akan terjadi di bulan November ini. Namanya hujan meteor Leonid, yang muncul pada tanggal 15 – 20 November dan berpuncak di kisaran tanggal 18 November setiap tahunnya. Di tahun 2012 ini, puncaknya terjadi pada tanggal 17 November dinihari.
Hujan meteor ini pernah disebut yang paling spektakuler ketika jumlah meteor yang tampak mencapai 100.000 buah per jamnya di tahun 1833. Dengan jumlah meteor sebanyak itu, istilah hujan meteor pun berubah menjadi badai meteor. Di keadaan normal, jumlah meteor yang bisa kita lihat antara 5-20 meteor per jam.
Badai Meteor Leonid 1833 (Sumber: Wikipedia)
Badai Meteor Leonid 1833 (Sumber: Wikipedia)
Nama hujan meteor ini diambil dari nama rasi Leo, yang disebut sebagai titik radian meteor-meteornya. Penamaan sebuah hujan meteor memang menggunakan rasi tempat titik radiannya berada. Titik radian itu sendiri berarti titik imajiner yang menjadi pusat dari semua meteor yang muncul. Apabila setiap meteor dianggap sebagai garis dan kita perpanjang ke arah yang berlawanan dengan arah geraknya, kita akan dapatkan semua garis tersebut seolah bertemu di satu titik. Titik itulah yang disebut titik radian. Mirip seperti jeruji roda yang bertemu di titik tengah roda.
Sebuah meteor (disebut juga bintang jatuh atau bintang beralih) akan terlihat sebagai goresan cahaya sekilas di langit. Durasinya tidak sampai satu detik walaupun ada juga yang terlihat cukup lama, bergantung dari ukurannya. Meteor tersebut berasal dari meteoroid yang tertarik gravitasi dan masuk ke atmosfer Bumi. Menurut IAU, meteoroid itu sendiri didefinisikan sebagai benda padat yang bergerak di ruang antar planet, dengan ukuran lebih kecil dari astroid dan lebih besar dari sebuah atom.
Meteoroid yang berpijar
Sebuah meteoroid yang memasuki atmosfer Bumi akan mengalami tumbukan dengan partikel-partikel udara. Tumbukan ini dapat memanaskan meteoroid dan memijarkannya. Namun bukan hanya itu saja yang menyebabkan meteoroid bercahaya. Karena lajunya yang cukup tinggi, meteoroid akan menekan kolom udara di depannya. Tekanan tersebut akan memanaskan udara sedemikian tingginya sehingga dapat memijarkan dan juga melelehkan sebagian meteoroid tersebut.
Hujan meteor Leonid dilihat dari orbit (Sumber: Wikipedia)
Hujan meteor Leonid dilihat dari orbit (Sumber: Wikipedia)
Kebanyakan meteoroid dalam sebuah hujan meteor akan terbakar habis di atmosfer karena ukurannya yang kecil. Tetapi ada juga meteor yang tidak habis di atmosfer, melainkan terus turun dan menumbuk permukaan Bumi. Tumbukan ini dapat menghasilkan kawah dan sisa batuan yang ditemukan disebut meteorit. Meteor seperti itu biasanya bukan berasal dari hujan meteor tetapi termasuk dalam kelompok meteor sporadis. Sebuah meteorit yang baru ditemukan sering dikatakan memiliki suhu tinggi. Padahal sebenarnya tidak begitu karena bagian yang panas dari meteor tersebut sudah hilang. Sehingga meteorit bisa ditemukan dalam keadaan hangat saja.
Penyebab hujan meteor
Peristiwa hujan meteor terjadi ketika Bumi menemui banyak batuan dalam revolusinya. Batuan tersebut berasal dari serpihan komet yang sedang mendekati Matahari. Apabila komet tersebut melintas cukup dekat (atau bahkan berpotongan) dengan orbit Bumi, maka kita akan mengalami hujan meteor setiap kali Bumi melewati wilayah tersebut. Dan meteoroid dalam hujan meteor Leonid ini berasal dari komet 55P Tempel-Tuttle yang memiliki periode 33 tahun. Apabila hujan meteor terjadi setelah komet tersebut melintas, kita akan melihat badai meteor. Dengan begitu, badai meteor Leonid juga memiliki periode yang sama. Dan peristiwa berikutnya akan terjadi pada tahun 2023 nanti.
Mengamati hujan meteor
Hujan meteor adalah salah satu peristiwa astronomis yang dapat dinikmati dengan mata telanjang. Tidak ada peralatan canggih yang diperlukan, misalnya teleskop atau binokuler. Penggunaan alat bantu optik justru akan mempersempit medan pandang dan mempersulit kita untuk melihat meteor yang muncul dan lenyap dengan cepat.
Untuk mengamati hujan meteor, kita hanya perlu melihat area langit yang seluas mungkin karena meteor bisa terlihat dari 4 mana saja. Tentunya keadaan lingkungan yang gelap, minim polusi cahaya dan polusi udara serta nyaman dan aman adalah kondisi ideal yang akan menambah besar kesempatan untuk melihat semakin banyak meteor. Tetapi mematikan lampu lalu duduk atau berbaring di halaman rumah juga sudah cukup baik, mengingat waktu pengamatannya adalah tengah malam sampai jelang fajar.
Pengamatan di kala Bulan tidak muncul juga akan membantu kita melihat meteor-meteor redup. Untungnya di malam ini Bulan sedang berada pada fase sabit muda, sehingga tidak akan mengganggu pengamatan tengah malam nanti. Semoga langit cerah!

Melihat Bintang Dari Dasar Sumur Di Siang Hari

Mungkin sudah banyak di antara kita yang pernah membaca tulisan seperti judul di atas. Bagi yang belum pernah, cobalah cari di internet dengan menggunakan kata kunci ‘melihat bintang dari dasar sumur’. Kita akan temukan bahwa kebanyakan hasil pencariannya berasal dari ulasan ‘fakta-fakta menarik di dunia’. Tidak ada satupun yang menjelaskan mengapa hal tersebut dapat terjadi. Betulkah kita bisa melihat bintang dari dasar sumur di siang hari?
Untuk menjawabnya, kita harus terlebih dahulu tahu mengapa langit di siang hari begitu terang sehingga kita tidak bisa melihat bintang-bintang. Penyebabnya adalah adanya penghamburan cahaya Matahari oleh partikel-partikel di atmosfer yang disebut hamburan Rayleigh. Hamburan ini ditimbulkan oleh partikel-partikel yang lebih kecil dari panjang gelombang cahaya tampak. Dan karena warna biru memiliki panjang gelombang terkecil di daerah cahaya tampak, maka yang lebih banyak dihamburkan di atmosfer adalah warna biru. Oleh karena itulah langit kita berwarna biru.
Langit penuh warna di kala senja (Sumber: wikipedia).
Langit penuh warna di kala senja: merah dekat dari horison dan biru jauh dari horison (Sumber: wikipedia).
Pengaruh lain dari hamburan tersebut adalah kita melihat langit berwarna kemerahan di kala fajar dan senja saat Matahari masih berada dekat horison dan Bulan tampak kemerahan ketika mengalami Gerhana Bulan Total. Warna merah itu adalah warna yang ‘tersisa’ setelah warna biru dari cahaya Matahari dihamburkan atmosfer. Dan apabila kita melihat langsung ke arah Matahari, cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang dari biru tadilah yang akan terlihat sehingga Matahari tampak kekuningan. Sedangkan bila kita berada di luar angkasa, Matahari akan tampak putih.
Langit tampak biru dan merah (Sumber: math.ucr.edu)
Ilustrasi mengapa langit tampak biru di siang hari dan merah di kala fajar/senja (Sumber: math.ucr.edu).
Lalu apakah dengan masuk ke dalam sumur yang dalam kita jadi bisa melihat bintang-bintang di siang hari? Tidak semua bintang, hanya bintang terang seperti Sirius dan dalam keadaan atmosfer yang sangat baik/cerah. Tentunya apabila kita dapat melihat semua bintang di siang hari, maka pasti ada banyak observatorium yang dibangun di bawah tanah. Mengamati langit dari dalam sumur tidak meniadakan efek hamburan Rayleigh, hanya mengurangi sedikit saja. Apabila kita ingin mengamati bintang di siang hari, sebaiknya kita pindah ke tempat yang tidak memiliki atmosfer seperti Bulan. Jangan malah masuk ke sumur yang dalam.

Saatnya Mengamati Komet PANSTARRS

Komet C/2011 L4 (PANSTARRS) (selanjutnya disebut komet Panstarrs) diamati pertama kali pada tanggal 6 Juni 2011 dari Observatorium Pan-STARRS di Hawaii. Komet ini diketahui akan mencapai perihelion (titik terdekatnya dengan Matahari) sejauh 0,3 SA pada tanggal 10 Maret 2013.
Komet, yang biasa disebut sebagai bintang berekor, adalah sebuah benda di tata surya yang mengelilingi Matahari dengan orbit tertentu: bisa secara periodik dan bisa juga non-periodik (hanya mengelilingi sekali saja). Sebuah komet biasanya berasal dari tepi tata surya yang dingin sehingga mengandung batuan es. Ketika komet semakin dekat dengan Matahari, es di tubuhnya akan menguap dan menghasilkan koma (bagian pusat komet serupa atmosfer) serta ekor gas. Gas tersebut akan terionisasi oleh pancaran ultraungu Matahari sehingga memancarkan cahaya biru. Karena dipengaruhi oleh Matahari, maka ekor gas dari sebuah komet akan selalu membelakangi posisi Matahari. Selain ekor gas, ada juga ekor debu yang dihasilkan dari pergerakan komet. Ekor ini biasanya berbentuk melengkung dan membelakangi arah gerak komet.
Komet Panstarrs
Komet Panstarrs (Sumber: http://waitingforison.wordpress.com/)
Di tata surya kita sudah ditemukan banyak komet. Pola penamaan pun menjadi hal yang cukup penting supaya semua orang tidak bisa sesuka hati menamai komet yang ditemukannya. Sejak tahun 1994, IAU mengadopsi sistem penamaan yang baru dan lebih mudah dibanding sistem sebelumnya. Setiap komet akan dinamai dengan kode yang menerangkan sifat orbitnya, lalu tahun penemuannya, sebuah huruf yang mengindikasikan urutan penemuannya berdasarkan periode setengah bulan (kecuali huruf I dan Z) dan angka yang menandakan urutan penemuan di periode tersebut. Berikut ini kode sifat orbit komet yang digunakan:
  • P/ komet periodik, yaitu komet yang memiliki periode orbit kurang dari 200 tahun atau teramati di perihelionnya lebih dari sekali.
  • C/ komet non-periodik.
  • X/ komet yang tidak diketahui orbitnya, biasanya adalah komet di masa lalu.
  • D/ komet periodik yang telah hilang atau terdisintegrasi.
  • A/ komet yang salah diidentifikasi, padahal sebuah planet minor.
Dengan begitu, komet C/2011 L4 berarti komet keempat yang ditemukan di paruh pertama bulan Juni pada tahun 2011. Selain itu, nama populernya (penemu/tempat pengamatan saat penemuan) juga ditambahkan di belakang nama resminya.
Di akhir bulan Februari lalu, komet Panstarrs sudah dapat diamati dari Bumi belahan selatan di langit timur pagi hari. Kecerlangannya saat itu adalah pada magnitudo 2,6 atau seterang bintang-bintang di rasi Ursa Major (dikenal juga dengan sebutan bintang tujuh dan dari bentuknya yang serupa gayung) di langit utara. Berdasarkan perhitungan terbaru, komet Panstarrs ini diperkirakan bisa mencapai kecerlangan maksimum 1,6 atau seterang 3 bintang di sabuk Orion pada pekan kedua bulan Maret 2013.
Simulasi kenampakan komet tanggal 13 Maret setelah Matahari terbenam
Simulasi kenampakan komet tanggal 13 Maret setelah Matahari terbenam (Sumber: http://waitingforison.wordpress.com/)
Sayangnya komet ini akan tampak begitu rendah/dekat dengan horison, sehingga relatif sulit untuk diamati. Namun apabila di daerah sekitar kita ada area dengan pandangan ke arah horison timur dan barat yang luas, bolehlah mencoba melakukan pengamatan komet Panstarrs ini. Caranya, amati langit barat daya sampai barat dengan ketinggian sekitar 10 derajat saat Matahari terbenam. Apabila ada, gunakan binokular atau rekam langit dengan kamera DSLR atau sejenisnya yang bisa memanipulasi lamanya waktu bukaan. Coba baca juga blog ini, ada info yang cukup lengkap tentang bagaimana cara mengamati komet Panstarrs ini. Selamat mengamati. :)

Mengenal Venus, Planet Yang Paling Terang

Venus adalah planet kedua terdekat dari Matahari. Planet ini sangat terang jika dilihat dari Bumi, kecerlangannya hanya kalah dari Matahari dan Bulan. Karenanya Venus pun bisa disebut sebagai “bintang” paling terang di langit. Dan mungkin karena itu planet ini dinamai Venus sang Dewi Cinta dan Kecantikan, atau Aphrodite dalam peradaban Yunani kuno.
Citra Venus diambil oleh wahana Mariner 10 (Sumber: nunes, astrosurf.com)
Citra Venus diambil oleh wahana Mariner 10 (Sumber: nunes, astrosurf.com)
Venus telah menjadi perhatian banyak kebudayaan sejak lama. Para penduduk suku Maya menjadikan Venus sebagai penanda waktu dalam sistem kalendernya karena mereka dapat hitung dan prediksikan kemunculannya yang periodik bergantian di langit timur dan barat. Seperti juga Merkurius, Venus juga awalnya salah diidentifikasi oleh beberapa kebudayaan sebagai 2 objek yang berbeda ketika ia muncul bergantian di timur dan di barat. Misalnya ada yang menyebutnya Eosphorus ketika muncul di pagi hari (ada juga yang menyebutnya sebagai Lucifer) dan Hesperus ketika muncul di sore hari.
Di tahun 1600-an ketika masyarakat ramai mencibir teori/model alam semesta heliosentris (karena saat itu yang sedang populer adalah teori/model geosentris), Venus menjadi salah satu objek kunci yang membantah geosentrisme. Pengamatan Galileo terhadap Venus menggunakan teleskop menunjukkan bahwa Venus memiliki fase sebagaimana halnya Bulan. Fakta ini menegaskan bahwa Venus mengelilingi Matahari, berbeda dengan pandangan Ptolemius dan penganut geosentrisme yang mengira Venus dan Matahari mengelilingi Bumi. Karena apabila begitu, Venus tidak akan menunjukkan perubahan fase. Ditambah dengan beberapa bukti pengamatan lainnya di tahun-tahun sesudahnya, geosentrisme pun semakin tergeser.
Jaman semakin modern dan pengamatan Venus pun semakin banyak dilakukan. Pengetahuan kita tentang planet ini juga bertambah. Awalnya Venus dikatakan planet yang paling mirip dengan Bumi karena ukurannya hampir sama dengan Bumi dan atmosfernya yang cukup tebal. Tetapi kemudian diketahui bahwa kondisi Venus sebenarnya terlalu ekstrim bagi kehidupan. Temperatur rata-ratanya mencapai 460 derajat Celcius, rekor tertinggi di tata surya. Bahkan Merkurius yang lebih dekat ke Matahari kalah panas dari Venus.
Jawaban dari misteri penyebab panasnya Venus adalah kandungan utama atmosfernya. Dominasi karbondioksida di udara Venus (mencapai 95%) menyebabkan terjadinya efek rumah kaca yang berkelanjutan. Panas Matahari yang diserap atmosfer kemudian dipantulkan oleh permukaan. Tetapi panas hasil pantulan itu dipantulkan balik oleh awan karbondioksida yang tebal. Karena tidak ada panas yang dapat keluar dari planet Venus, udara di Venus pun memanas secara kontinu.
Fase Venus hanya bisa diamati dalam heliosentrisme (Sumber: telescope1609.com)
Fase Venus hanya bisa diamati dalam heliosentrisme (Sumber: telescope1609.com)
Rotasi Dan Revolusi
Periode rotasi Venus adalah 243 hari Bumi dan periode revolusinya 224 hari Bumi. Sekilas bisa kita simpulkan bahwa satu hari di Venus lebih lama dari 1 tahunnya. Tetapi kenyataannya tidaklah begitu karena periode rotasi tersebut bukanlah periode harinya. Satu hari di Venus hanya 116 hari, masih lebih cepat daripada Merkurius. Uniknya, putaran rotasi Venus berlawanan dengan putaran rotasi Bumi. Jadi jika kita berada di Venus kita akan menyaksikan Matahari terbit di barat dan terbenam di timur.
Arah rotasi Venus yang terbalik itu biasa disebut dengan istilah retrograde alias searah dengan putaran jarum jam jika kita melihatnya dari kutub utara ekliptika. Namun kini diketahui bahwa sebenarnya kutub rotasinyalah yang terbalik. Inklinasi kutub utara rotasi Venus terhadap kutub utara ekliptika adalah 179 derajat, sangat besar dibandingkan Bumi yang hanya 23,5 derajat saja. Penyebab inklinasi sebesar ini diduga adalah karena ada benda besar yang menabrak Venus di awal pembentukannya dulu.
Pengamatan Dan Misi Penerbangan
Tebalnya awan di Venus membuat pengamatan optik landas Bumi terhadap permukaannya tidak dapat dilakukan. Pengamatan spektroskopi, radar, dan ultraviolet pun hanya memberikan sedikit informasi tambahan. Menyadari hal ini, para peneliti kemudian merencanakan berbagai misi penerbangan ke Venus untuk melakukan pengamatan dari dekat. Misi yang pertama adalah pengiriman wahana Venera 1 oleh Uni Soviet di tahun 1961. Wahana tersebut direncanakan untuk menumbuk Venus namun gagal 7 hari setelah peluncurannya.
Misi yang berhasil pertama kali dalam meneliti Venus adalah pengiriman wahana Mariner 2 oleh Amerika Serikat di tahun 1962, setelah Mariner 1 gagal saat peluncuran. Wahana Mariner 2 tersebut melintas-dekat Venus dari jarak sekitar 34.000 km dan memberikan informasi berharga tentang tingginya temperatur permukaan Venus, sekaligus memusnahkan harapan bagi manusia untuk menggunakan Venus sebagai tempat tinggal kedua.
Setelah misi Mariner 2 itu, ada banyak misi lainnya yang meraih kesuksesan. Seperti Venera 3 yang menjadi wahana yang pertama kalinya masuk ke atmosfer planet lain, Venera 7 yang berhasil mengirimkan data untuk pertama kalinya dari permukaan planet lain, dan Pioneer Venus Orbiter yang mengorbit dan meneliti Venus selama 13 tahun sejak 1978.
Pengiriman wahana ke Venus itu sendiri menjadi salah satu tonggak penting dalam penjelajahan tata surya. Keberhasilan terbang lintas-dekat Venus kemudian diikuti dengan keberhasilan yang sama di Mars. Perlahan tapi pasti semua planet pun akhirnya berhasil diamati dari dekat. Pendaratan wahana di Venus dan Mars juga menarik untuk ditunggu kelanjutannya, siapa tahu salah satu atau bahkan keduanya bisa diubah menjadi planet yang ramah bagi kehidupan suatu saat nanti.

Gerhana Matahari Cincin 10 Mei 2013

Indonesia, bersiaplah menyambut Gerhana Matahari Cincin (GMC) pada tanggal 10 Mei 2013 pagi. Gerhana ini akan tampak dari Indonesia sebagai gerhana sebagian, karena bayangan atumbra Bulan tidak melintasi Indonesia. Daerah yang dapat mengamati gerhana ini adalah semua daerah yang ada di sebelah timur Pekanbaru dan Padang (lihat peta di bawah).
Peta GMC 20130510 (sumber: http://astro.ukho.gov.uk)
Peta GMC 20130510 (sumber: http://astro.ukho.gov.uk)
Secara umum, GMC nanti dimulai saat kontak pertama dengan Bumi pada pukul 4.25 WIB, puncaknya terjadi pada pukul 7.19 WIB, dan berakhir pada pukul 10.25 WIB. Namun waktu kejadian di tiap-tiap daerah akan berbeda. Misalnya di Samarinda gerhana dimulai pukul 5.51 WITA, berakhir pukul 7.28 WITA, dan area Matahari yang tertutupi mencapai 16%. Di Jayaura mulai pukul 6.37 WIT,berakhir pukul 9.21 WIT, dan area Matahari yang tertutupi mencapai 51%.
Info GMC 10 Mei 2013 (sumber: http://astro.ukho.gov.uk)
Info GMC 10 Mei 2013 (sumber: http://astro.ukho.gov.uk)
Di beberapa kawasan Indonesia, gerhana nanti sudah dimulai bahkan sejak Matahari belum terbit. Jadi agar kita dapat mengamatinya di arah timur dengan leluasa, carilah daerah yang memiliki langit sebelah timur yang terbebas dari halangan pepohonan, gedung, atau perbukitan/pegunungan.
Peta GMC 130510 Indonesia (Sumber: Marufin Sudibyo)
Peta GMC 130510 Indonesia (Sumber: Marufin Sudibyo)
Gambar di atas adalah peta gerhana 10 Mei 2013 khusus area Indonesia yang diambil dari tulisan Marufin Sudibyo di akun facebooknya.
Keterangan peta :
* Garis P1 merupakan garis yang menghubungkan titik-titik dimana Matahari terbit tepat pada saat gerhana dimulai (awal kontak penumbra).
* Garis puncak adalah garis yang menghubungkan titik-titik dimana Matahari terbit tepat pada saat puncak gerhana terjadi.
* Garis P4 adalah garis penghubung titik-titik dimana Matahari terbit tepat pada saat gerhana berakhir (akhir kontak penumbra).
* Garis 20 % merupakan garis yang menghubungkan titik-titik yang pada saat puncak gerhana terjadi mengalami situasi dimana 20 % cakram Matahari tertutupi bundaran Bulan. Hal yang sama berlaku pula bagi garis 40 %, garis 60 % dan garis 80 %.Patokan :
* Daerah-daerah yang terletak di sebelah kiri (di sebelah barat) garis P4 tidak mengalami gerhana sama sekali.
* Daerah-daerah yang terletak di antara garis P4 dan garis Puncak adalah daerah-daerah yang tidak menjumpai puncak gerhana namun masih mengalami gerhana hingga kontak akhir penumbra.
* Daerah-daerah yang terletak di antara garis Puncak dan garis P1 adalah daerah-daerah yang menjumpai puncak gerhana dan mengalami gerhana hingga kontak akhir penumbra.
* Daerah-daerah yang terletak di sebelah kanan (di sebelah timur) garis P1 adalah daerah-daerah yang menjumpai gerhana dalam seluruh tahapnya sejak awal hingga akhir.Durasi gerhana :
* Secara umum gerhana di Indonesia terjadi sejak pukul 05:30 WIB hingga 09:20 WIB.
* Hanya saja karena peristiwa ini adalah Gerhana Matahari, durasi tersebut tidak berlaku umum sehingga masing-masing tempat memiliki durasinya sendiri-sendiri yang sangat bervariasi. Itu pun masih dibatasi oleh waktu terbitnya Matahari yang berbeda-beda.
* Contoh: bagi Jakarta (terletak di antara garis P4 dan puncak) gerhana bisa dinikmati sejak pukul 05:54 WIB (saat Matahari terbit) hingga pukul 06:25 WIB (durasi 31 menit).
* Contoh: bagi Samarinda (terletak di antara garis Puncak dan P1) gerhana bisa dinikmati sejak pukul 06:05 WITA (saat Matahari terbit) hingga pukul 07:29 WITA (durasi 84 menit).
* Contoh: bagi Jayapura (terletak di sisi kanan garis P1) gerhana bisa dinikmati sejak pukul 06:37 WIT hingga pukul 09:21 WIT (durasi 2 jam 44 menit).Cara penggunaan peta :
* Tentukan titik lokasi anda dalam peta
* Tentukan lokasi tersebut berada di sebelah mana terhadap garis P4, Puncak ataupun P1
* Tentukan lokasi tersebut berada di sebelah mana terhadap garis 20 %, 40 % atau 60 %.
Contoh :
* Lokasi : Denpasar (Bali)
* Posisi : di antara garis Puncak dan P1, sehingga tidak mengalami seluruh tahap gerhana namun menjumpai puncak gerhana hingga akhir gerhana (puncak gerhana terjadi setelah Matahari terbit di Denpasar).
* Posisi : di antara garis 40 % dan 60 % sehingga pada saat puncak gerhana, persentase penutupan cakram Matahari oleh bundaran Bulan di Denpasar mencapai sekitar 50 %.

Senin, 23 September 2013

Lubang hitam Supermasif, Sang Pencipta Bintang-Bintang Di Galaksi

Lubanghitam supermasif adalah lubanghitam yang massanya sangat besar. Letaknya ada di pusat galaksi-galaksi. Sejarah penemuannya cukup unik. Berikut ini adalah twit dadctentang lubanghitam supermasif (LHSM).
sejarah penemuan #lubanghitam #supermasif diawali dari penemuan quasar: quasi stellar object, benda yg mirip bintang tp sangaaaaaaat jauh
tau kan kalo semua titik bintang di langit itu ada di galaksi bimasakti. & galaksi ga akan terlihat sbg titik #lubanghitam #supermasif
nah quasar itu terlihat sbg titik tapi diketahui jaraknya jauh alias ada di luar galaksi bimasakti #lubanghitam #supermasif
Ilustrasi pancaran energi dari sebuah quasar. (Sumber: Wikipedia)
Ilustrasi pancaran energi dari sebuah quasar (Sumber: Wikipedia).
jd quasar itu pasti galaksi. tp knp bs terlihat sbg titik? krn sebenernya cahayanya terang sekali #lubanghitam #supermasif
cahaya seterang itu (ingat, jaraknya jaaaaaaaaauh sekali) awalnya diteorikan berasal dari bagian inti galaksi #lubanghitam #supermasif
di bag inti itu ada #lubanghitam #supermasif yg sedang menghisap materi di sekitarnya & membentuk piringan akresi
Ilustrasi piringan akresi dari sebuah lubanghitam supermasif (Sumber: wikipedia).
Ilustrasi piringan akresi dari sebuah lubanghitam supermasif (Sumber: wikipedia).
piringan akresi terbentuk akibat materi yg terhisap #lubanghitam #supermasif bergerak spiral, bukannya lurus langsung ke #lubanghitam
gesekan antar materi di piringan akresi tsb yg menimbulkn panas & memancarkn chy yg mengalahkan terangnya galaksi #lubanghitam #supermasif
dan materi tersebut akan bergerak dgn sgt cepat! pergerakan ini dpt diamati dengan metode spektroskopi #lubanghitam #supermasif
maka astronom pun mencoba mengamati spektrum quasar utk membuktikan keberadaan #lubanghitam #supermasif
sebagai pembanding, diamati jg galaksi andromeda yg bagian intinya terlihat pasif #lubanghitam #supermasif
oya, krn terangnya bag inti itu quasar jg digolongkan sbg objek agn, active galactic nuclei #lubanghitam #supermasif
ternyata pengamatan spektrum quasar ga memberi hsl memuaskan krn jaraknya terlalu jauh #lubanghitam #supermasif
apa yg diramalkan teramati di quasar dan ga ada di andromeda, ternyata malah muncul di andromeda! K E J U T A N! #lubanghitam #supermasif
Tetangga kita, Galaksi Andromeda (Sumber: WIkipedia).
Tetangga kita, Galaksi Andromeda (Sumber: WIkipedia).
artinya #lubanghitam #supermasif itu ada juga di andromeda. padahal bagian intinya ga memancarkan cahaya yg sgt terang
pengamatan pun dilakukan ke galaksi2 spiral lain, termasuk galaksi bimasakti. hasilnya? semuanya punya #lubanghitam #supermasif!
lama kelamaan, di pusat quasar jg ditemukan #lubanghitam #supermasif. jd l.h.s.m tdk selalu menghasilkan agn, ada jg masa tenangnya
sekali waktu #lubanghitam #supermasif akan menghasilkan piringan akresi & agn. satu saat semua akan didorong menjauh & galaksi jd tenang
selain itu, keberadaan #lubanghitam #supermasif di pusat galaksi mempengaruhi kecepatan revolusi bintang2 di galaksi itu
galaksi yg bintang di tepinya melaju dgn cepat ternyata memiliki #lubanghitam #supermasif yg massanya lebih besar
padahal jarak antara tepi galaksi ke #lubanghitam #supermasif sangat jauh, bisa puluhan ribu tahun cahaya. tp pengaruhnya terasa
dicurigai di masa lalu ada hubungan antara bintang2 di tepi galaksi dengan #lubanghitam #supermasif di inti galaksi.
galaksi awalnya berupa awan raksasa yang terdiri dari gas dan debu. di bagian pusatnya terbentuklah #lubanghitam #supermasif
#lubanghitam #supermasif tsb memicu awan di sekitarnya utk membentuk bintang2. jadi #lubanghitam bukanlah semata benda penghancur
pada satu saat, #lubanghitam #supermasif akan meniup awan sekitarnya menjauh. di sinilah hubungan antara bintang di tepian galaksi dgn l.h.s.m
semakin cepat bintang di tepian galaksi bergerak, semakin sulit #lubanghitam #supermasif di pusat mendorong awan/materi di sekitarnya
nah, supaya bisa mendorong, #lubanghitam #supermasif itu harus tumbuh lebih besar dulu. semakin cepat bintang, semakin besar massa l.h.s.m-nya
pada akhirnya #lubanghitam #supermasif yang sedang pasif bisa saja aktif lagi dan memakan materi yang mendekatinya, spt yg teramati di bimasakti
tp jgn khawatir, #lubanghitam #supermasif di pusat bimasakti tdk akan menghisap tata surya kita
berkat penelitian tentang #lubanghitam #supermasif ini, pemahaman kita thd pembentukan galaksi pun berubah
jika sebelumnya galaksi dikatakan bisa terbentuk tanpa keterlibatan #lubanghitam #supermasif, tp sekarang diket l.h.s.m adlh yg terpenting
tanpa #lubanghitam #supermasif, bumi dan kehidupan di dalamnya tidak akan terbentuk! untung ada #lubanghitam #supermasif